Viral Driver Gocar Curhat Jaman Anies KJS Mandek, Padahal Perlu Obati Kankernya

Agama Ahok Anies Baswedan Facebook Go-jek Islam Jakarta Jeritan Rakyat Kesehatan Kristen Nasional Netizen Transportasi Viral

Kisah BPJS

Jaman AHOK vs Β ANIES

Disadur dari Facebook Lyana Lukito

Saya ingin cerita sedikit buat teman-teman FB. Sewaktu saya melihat berita viral di medsos kalau PK Pak Ahok di tolak.

Kemarin sore saya(Lukito-red) hendak pergi ke Gereja, tepatnya jam 4.30 wib. Saya tidak membawa kendaraan atau diantar sopir saya seperti yang biasanya saya lakukan. Kemarin sore saya inisiatif memakai jasa angkutan mobil online GoCar. Saat saya mengorder dan mendapatkan pengemudinya bernama DJumaidi Akhbar, mobilnya Avanza, setelah berselang sekitar 15 menitan, akhirnya si Bapaknya sudah tiba, akan tetapi sang pengemudi tidak membawa mobilnya seperti yang ada di aplikasi Gojek saya, dia ganti mobilnya Xenia sporty. Saya tergolong manusia yang gak terlalu mempermasalahkan kendaraannya, yang terpenting sampai tujuan dengan selamat, jikapun terjadi sesuatu bisa mengadukan keluhan kita kepada help center gojek, ya kan broo.

Seperti biasanya yang saya lakukan jika menggunakan jasa angkutan daring maupun konvesional, maka kami saling menyapa satu sama lain.

Dialog kami:

Keterangan dialog:

Saya : πŸ™Ž

Driver : πŸš•

πŸ™Ž : “met sore Pak”
πŸš• : “Sore..bu”

Tapi saya lihat mukanya tuh pucat sekali dan badannya kurus banget, saya empati dan berinisiatif sendiri untuk menanyakan kepada sang driver ini,

πŸ™Ž : “Bapak kenapa, sakit yah?”
πŸš• : “Yah, Bu.. Saya sakit. Tapi mau gimana bu saya harus tetap cari uang biar bisa makan.”

Trus katanya lagi,

πŸš• : “Bu, saya pakai Xenia, maaf, mobil saya yang Avanza sedang jadi jaminan di RS Islam Jakarta, ini mobil sewaan.”

πŸ™Ž : “Loh kenapa Pak?”

πŸš• :”Iyaa.. karena saya tidak mampu lagi membayar uang pengobatan, makanya mobil saya yang Avanza saya titip di RS Islam, karena sakit saya ini emang berat, Bu.. butuh pengobatan dalam jangka waktu yang lama.”

Rasa saya penasaranpun makin bertambah dan menangkap sesuatu yang salah telah terjadi.
πŸ™Ž : “Emang Bapak sakit apa, kok mobilnya sampai jadi jaminan di rumah sakit?”_

πŸš• : “bukan cuma mobil aja, sertifikat rumah saya pun saya gadaikan di bank demi pengobatan kanker saya.”

πŸ™Ž : “Ouuh! Bapak kena cancer ?” (Memberi penekanan Intonasi bertanya)

πŸš•: “Iya, saya cancer, Bu, stadium 3. Saya cancer tenggorokan tapi sudah menjalar dimana-mana.”

Aduuh saya merinding mendengar penjelasan bapak driver gocar ini, dan pastas saja jika wajah Bapak ini terlihat pucat dan badannya kurus sekali. Nada bicaranya pun terdengar sangat lemah sekali.

Kemudian, saya tanyakan lagi, mengenai pengobatan nya.

πŸ™Ž: “Emang Bapak berobat nggak pakai BPJS atau Asuransi ya? Ada nggak pak?”

Baca Lagi Nih:  Trisakti: Anies Baswedan Akan Ganti Nama Halte Depan Trisakti, Ini Jelas Pencitraan

πŸš•: “BPJS Asuransi sudah tidak bisa lagi alias limit bu, karena pengobatan saya ini sudah tergolong terlalu lamaΒ Dan nggak bisa lagi dicover BPJS”.

Sembari mengemudi, dan menarik nafas secara pelan, pak djumaidi melanjutkan pembicaraannya

πŸš•: “Dulu saya pakai KJS(kartu jakarta Sehat-red), obat apapun bisa di cover, ini sekarang nggak bisa, Bu. Dulu ada Pak Ahok saya bisa pengobatan gratis. Saya ke Balai Kota itu 5x dan ketemu langsung dengan beliau, kemudian beliau ngomong ke saya, “Pak Jumaidi, kalo ke RS ada yang menolak bapak berobat, segera laporkan ke staf-staf saya, yah.”Β  ujar pak junaidi menirukan kata-kata pak Ahok sewaktu datang menjenguknya

πŸš•: “Dan ibu tahu, no hp pribadinya di kasih sama saya! jaman Pak Ahok semua enak, bu. Saya walaupun sakit berat seperti ini, rasanya ada dewa penyelamat buat saya, jadi saya menikmati penyakit saya ini. Sekarang jaman Gubernur ini janjinya:Β “nanti balik lagi ya”, “besok lagi dan besok lagi tapi nggak pernah bisa dipegang janjinya.”

πŸš•: “Bu saya 2 bulan yang lalu, karena udah nggak sanggup lagi, saya berlutut di depan Balai Kota, terus ada yang tarik saya untuk berdiri, lalu ada yang nanya “kenapa si Bapak itu?” dan dijawab: “nggak, ini si Bapaknya sakit keras jadi lagi stress..”, trus mereka suruh saya pulang dulu, katanya nanti dihubungin, tapi sampai sekarang nggak dihubungi.”

πŸš•: “Bu, maaf, ibu Kristen, yah?”

πŸ™Ž: “iya pak, makanya saya mau ke gereja.”

πŸš•: “Iya, Bu.. Tolong doakan saya ya bu.. maaf saya yang beragama muslim merasa malu, Bu, karena orang sebaik Pak Ahok dipenjara.”

πŸš•: “Kami yang hidup susah seperti ini butuh pemimpin kayak Pak Ahok yang memimpin dengan hati nurani, karena politik yang gila ini bawa-bawa agama, pilih yang seiman, pilih Pak Anies wajib hukumnya dan surga tempat kita. Aduuh, Bu, selama proses Pilkada DKI kemarin saya jarang sembahyang ke masjid, saya di rumah aja, soalnya sudah salah, dan saya munafik sekali. Agama kami, Islam, itu agama baik. Pemimpin-pemimpin umat, imam/ustad yang terdahulu nggak kayak gini.”

πŸ™Ž: “Tidak semua umat muslim begitu yah, Pak.. yang terbawa politik saja, yang terhasut aja..pak”

Terus bapaknya ngambil tas kecil disamping kursinya lalu dibukanya dan diambillah kertas yang sudah mau sobek dan lusuh tersebut dikertas itu tertulis deretan angka-angka dan nama Basuki Tjahaja Purnama serta sebuah foto, katanya kemana-mana s’lalu dibawanya untuk jadi penyemangat hidup menghadapi ujian sakit cancer yang ia idap.

Baca Lagi Nih:  Polisi: Ojol Main Hakim Sendiri, Pasti Kami Cyduk

πŸ™Ž: “Yah, Tuhan”Β Β jeritku dalam hati. 😣😒😭

Lalu ia ceritakan mengenai fotonya tersebut,

πŸš•: “Ini, Bu, waktu ada Pak Ahok saat saya pengobatan di RS Dharmais, dan ini foto diambil saat saya hampir sekarat dan isteri saya menelepon beliau(pak Ahok-red), malemnya beliau – Pak Ahok segera datang ke RS Dharmais, disampingnya ada Ustad ‘tuk doain saya.”

Dan saya lihat di foto itu memang ada seorang Ustad.

πŸš•: “.. dan Pak Ahok memberi kami uang 25juta, disisipi di kantong isteri saya. Katanya jangan sampai ada yang tahu.”

Tak terasa air mataku berderai karena sedih dengerin cerita Pak Djumaidi, dan si bapak pun menangis terisak.

Katanya pesan yang slalu dia ingat dari Pak Ahok adalahΒ “Pak Djumaidi, tetap kuat, tetap sholat 5 waktu. Saya yakin ini cuma cobaan supaya bapak lebih beriman dan taqwah kepada Allah SWT itu lebih dekat lagi.. supaya bapak nanti kalo punya harta lebih, mungkin mobilnya nambah 1 lagi, jangan lupa bersedekah.”Β 

Tak terasa cerita kami yang begitu hangat terhenti karena sudah sampai di depan pelataran Gereja Paulus Sunda Kelapa.
πŸš•: “Bu sdah tiba.Β Ibu, maaf saya jadi curhat.”

πŸ™Ž: “Tidak apa, Pak. Ini jadi cerita dan bukti yang manis buat saya share ke orang lain dan semoga jadi berkat bagi yang membaca kisah luar biasa bapak ini.”

Sambil mengucapkan terima kasih atas perjalanan dan pembicaraan yang luarbiasa dan menguras serta mengaduk-aduk perasaanku, senang sedih dan kagum.

Dan hari ini saya baca di sosmed bahwa PK Bapak Ahok di tolak Hakim MA.

Pak Basuki Tjahaya Purnama, engkau bagaikan cahaya untuk orang-orang yang membutuhkan uluran tanganmu, orang-orangΒ  kecil, BAPAK NGGAK USAH KECIL HATI, karena banyak doa yang tulus dari semua orang, baik yang seiman & tidak seiman yang pernah merasakan uluran tanganmu dan Tuhan itu ada Pak. Suatu saat kebenaran itu akan terungkap. Doa tulusku untukmu.πŸ˜£πŸ˜’πŸ™

Β«kita bahwa melakukan hal yg baik itu tdk mengenal dia beragama apa atau dari suku mana, yg terpenting berbuat baik.Β»

*LyanaLukito*

Cerita telah mengalami Editing seperlunya, tanpa mengurangi makna sebenarnya.

Disunting oleh :Β Boby Pasaribu
27 Maret 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *